Selasa, 03 November 2015

tugas 1 pengantar bisnis


        
      1. Mempelajari pengantar bisnis untuk perjalanan karier di masa yang akan datang itu penting. Karena, kini bisnis telah berkembang seirama dengan perkembangan bangsa pada khususnya maupun dunia pada umumnya. Hal ini  tentu saja membawa konsekuensi logis bahwa akan terbuka lebarnya lapangan kerja di bidang bisnis. Dengan mempelajari bisnis sendiri maka kita akan lebih memahami bidang bisnis. Pada dasarnya, terdapat  4 jenis pelaku bisnis yang ada di indonesia. Di antaranya sebagai berikut: 

    1.    Pedagang adalah orang yang melakukan usaha. Berikut ini adalah karakteristiknya:

- Bidang usahanya biasanya tunggal, atau hanya satu.
- Tidak memiliki pegawai atau karyawan.
- Minim inovasi dan pengembangan usaha.
- Hanya menjalankan rutinitas usaha.
- Pendapatan hanya dari satu sumber, sehingga apabila sedang lesu, penghasilan berkurang.


2. Pebisnis atau pengusaha adalah orang yang melakukan bisnis. Berikut ini adalah karakteristiknya: 

- Sudah memiliki karyawan atau staf. 
- Sudah memiliki struktur dan sistem bisnis. 
- Memiliki sejumlah usaha. 
- Hanya fokus di pengembangan usaha. 
- Masih minim inovasi dan kreativitas. 
- Pendapatan tidak hanya dari satu sumber sehingga sudah bisa saling menutupi. 
- Meski ada sedikit usaha pengembangan, pengusaha masih menjalani rutinitas usaha dengan penghasilan tetap. 
-  Bila dibiarkan terus usahanya tanpa inovasi, lama kelamaan akan hancur tergerus perkembangan zaman.

  3.  Entrepreneur adalah orang yang melakukan wirausaha. Berikut ini adalah karakteristiknya: 

 - Sudah memiliki karyawan atau staf. 
 - Sudah menjalankan bisnis secara sistematis dan terstruktur. 
 - Memiliki sejumlah usaha.
 - Memiliki nafsu dan mabuk mengembangkan usaha. 
 - Berambisi memperluas bisnis. 
 - Memiliki inovasi dan kreativitas dalam usahanya. 
 - Pandai mengambil peluang usaha. 
 - Pendapatan bisa dari berbagai sumber usahanya. 
 - Rajin mencari terobosan-terobosan baru

4. Investor atau Pemodal adalah pihak yang memiliki modal untuk dipinjamkan atau diinvestasikan. Berikut ini adalah karakteristiknya: 

 - Mampu menangung kerugian baik secara finansial maupun secara mental. 
 - Mementingkan aspek finasial bagi dirinya sendiri. 
 - Memiliki strategi untuk menghadapi kerugian yang akan terjadi. 
 - Pihak terpenting yang berperan di dalam kegiatan pasar modal. 
 - Memiliki strategi untuk mendapatkan keuntungan sebesar besar nya.  

2.  5 Masalah Bisnis di Indonesia


     Pertama, Mindset  entrepreneurship masih sangat rendah.

         Entrepreneurship itu tidak hanya harus dimiliki oleh pengusaha saja tetapi semua orang terlebih-lebih pemerintah. “Hanya pemerintah atau pemimpin yang entrepreneur saja yang tahu cara membangun kekayaan negaranya,” kata Heppy. Entrepreneurship yang rendah ini yang menyebabkan pertumbuhan pengusaha di Indonesia sangat lamban. Dorongan dan iklim untuk menjadi pengusaha di Indonesia berbeda dengan negara-negara kaya seperti Singapura atau Amerika. Di China, pemerintah mendorong agar setiap rumah tangga menghasilkan satu produk. Dan pemerintah campur tangan penuh memasarkan produk itu. Bandingkan dengan Indonesia ketika seseorang akan memulai sebuah usaha. Begitu rumit dan susahnya proses yang harus dijalani.  Bahkan ketika sudah berjalan pengusaha dibiarkan bertarung sendiri di tengah pasar bebas.

   Kedua,  Angka kejatuhan bisnis yang tinggi.
           Mengacu pada data yang ada di Amerika, dari 100 bisnis yang tumbuh, hanya 4 % saja yang bisa sampai berumur 10 tahun. 50% jatuh pada tahun kedua, 80% bangkrut pada tahun kelima. Itu di negeri dimana pemerintahnya sangat mendorong dunia usaha yang memiliki prosentase pengusahanya sebanyak 11%. “Saya yakin di Indonesia angka kejatuhan bisnis lebih tinggi lagi. Karena banyak factor yang menjadi penyebabnya tidak hanya karena factor dari dalam si pebisnisnya tetapi juga factor eksternal yang menekan kehidupan sebuah bisnis,” jelas Heppy. 70% pebisnis, kata Heppy, financially incompetence. Padahal menguasai keuangan adalah keterampilan pokok yang harus dimiliki oleh seorang pebisnis setelah menjual. Kultur pebisnis di Indonesia yang belum terbiasa membicarakan masalahnya juga berpengaruh pada kejatuhan bisnis. Seolah-olah jika bicara persoalan dalam bisnis itu menjadi aib. Padahal di negara maju masalah bisnis itu adalah hal biasa untuk dibicarakan.

Ketiga, Tidak jelas nilai yang dibela.
           Ketidakjelasan apa yang dibela ini berpengaruh pada sikap dan keberpihakan warga negara terhadap sesuatu, termasuk pada produk-produk lokal. Tidak adanya pembelaan terhadap produk Indonesia menyebabkan banyaknya bisnis yang mati. “Seharusnya kita membeli sesuatu bukan karena murah, bukan karena lebih baik tetapi karena sesuatu itu buatan Indonesia,” kata Heppy bersemangat. Hari ini, kata Heppy, banyak anak-anak kita mencari penghidupan di negara orang lain sebagai TKI atau TKW karena ulah kita sendiri yang tidak mau membela produk negeri sendiri. Mereka yang jadi TKI dan TKW itu sebagian besar adalah mereka yang di PHK karena tempat mereka bekerja bangkrut. Bangkrut karena barang yang mereka hasilkan tidak ada yang membeli, karena rakyat kita lebih senang membeli barang buatan orang lain. 


Keempat, Dangkalnya sumber daya manusia
        Seperti negara tetangga lainnya di Asia Tenggara lainnya, Indonesia masih kekurangan tenaga profesional handal. Berdasarkan International Labour Organization (ILO), Indonesia semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja seiring dengan cepatnya laju globalisasi, perkembangan teknologi mutakhir, dan pola kerja dinamis. ILO juga mengklaim masalah tersebut diperparah dengan adanya emigrasi tenaga profesional, tenaga kerja yang semakin menua, dan kurangnya fasilitas untuk penyediaan pelatihan.

Kelima, Birokrasi yang masih rendah 

    AFP mengungkapkan Indonesia merupakan salah satu negara terburuk bagi startup untuk urusan birokrasi. Situs Startups.co.uk mengartikan birokrasi sebagai kode etik, hukum dan peraturan yang dibuat saat memulai bisnis baru

Sumber:

http://mabokbisnis.com/index.php/buku-mabuk-bisnis/18-books/mabok-bisnis/mengenal-bisnis/19-pelaku-bisnis
                        

https://id-id.facebook.com/notes/heppy-trenggono/tiga-masalah-pokok-dunia-usaha-di-indonesia/202130553131726
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar